Jumat, 30 November 2012

PENERAPAN KONSEP PERBEDAAN INDIVIDU DILIHAT DARI 4 SUDUT PANDANG DALAM PROSES PENDIDIKAN


Penerapan konsep perbedaan individu dilihat dari 4 sudut pandang dalam proses pendidikan.
1.      Perbedaan jenis kelamin dan gender.
Dilihat dari perbedaan gender karakteristik individu dalam proses pendidikan dapat dilihat dari perbedaan fisik yaitu sebagian perempuan lebih cepat matang dari pada laki-laki, tetapi laki-laki lebih kuat dari pada perempuan.dalam perbedaan fisik ini laki-laki lebih dominan dalam bidang kegiatan fisik. Kemampuan verbal perempuan cenderung lebih unggul dalam bidang yang berhubungan dengan verbal dan laki-laki cenderung lebih banyak bermasalah dalam penggunaan bahasa dalam proses pendidikan. Kemampuan spasial laki-laki lebih unggul dibanding perempuan dalam kemampuan spasial. Dilihat dari secara keseluruhan dan melalui penelitian yang dilakukan, bahwa laki-laki lebih unggul dalam bidang matematik dan sains, sedangkan wanita lebih unggul dalam bidang seni dan musik. Contoh dari perbedaan gender di dalam sekolah laki-laki lebih unggul dalam mendapatkan prestasi di bidang olahraga. Sedangkan perempuan lebih unggul dalam bidang seni, misal juara seni tari. Dari kesimpulan diatas membuktikan bahwa laki-laki dan perempuan adalah individu yang berbeda dari segi gender tapi dalam kenyataannya laki-laki dan perempuan masih bisa bersaing secara normal sebagai seorang siswa di dalam sekolah.
2.      Perbedaan kemampuan
Dilihat dari sudut pandang perbedaan kemampuan, kemampuan sering diartikan sebagai kecerdasan, dan para peneliti mengasumsikan bahwa kecerdasaan adalah kemampuan dalam belajar. Wechsler mengembangkan perbedaan kecerdasan menggunakan tes IQ yang dapat dipahami dari skor yang dihasilkan dari tes tersebut. Misal, ukuran IQ 90-109 digolongkan kedalam IQ menengah/ratra-rata. Sedangkan ukuran IQ 80-89 dikatagorikan dibawah rata-rata. Sedangkan kemampuan 110-119 dikatagorikan di atas rata-rata. Dan kelompok IQ di atas 140 hanya ada 1% dari populasi manusia. Dijelaskan bahwa kemampuan IQ diatas 130-140 dikatakan sebagai anak gifted, merekan memiliki kecerdasaan yang sangat luar biasa tetapi cenerung bermasalah dalam sosialisasi dengan orang lain. Oleh sebab itu anak gifted lebih sering terlibat dalam perkara kriminal, dikarenakan mereka secara emosional mereka kurang matang dan kurang motivasi. Menurut Renzulli (dalam munandar, 1999) anak gifted memiliki kemampuan umum diatas rata-rata, kreatifitas diatas rata-rata, dan komitmen terhadap tugas tinggi. IQ dibawah 70 disebut anak terbelakang. Ciri-cirinya dapat dilihat dari kemampuan verbal mereka yang buruk, lambat bergerak, perkembangan motorik yang lambat, sensor motoriknya tidak berfungsi dengan baik. Dari kesimpulan di atas dapat dijelaskan bahwa perbedaan individual juga dapat dilihat dari perbedaan kemampuan tiap-tiap individu yang menghasilkan kecerdasan yang berbeda dalam proses pendidikan.
3.      Perbedaan kepribadian
Kepribadian adalah pola perilaku dan cara berfikir yang khas yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Atkinson,dkk). Bahwa kepribadian yang terbentuk dari berbagai macam situasi, kondisi, serta lingkungan yang berbeda sangat mempengaruhi perbedaan individu dalam bidang pendidikan. Dalam model big five, orang extroversion memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, penuh energi, serta memiliki emosi yang positif. Mereka cenderung lebih aktif di dalam proses pendidikan di dalam kelas. Agreebleness, anak tipe ini memiliki sifat pemikiran yang positif dan mudah bekerja sama dengan orang lain. Kemudian conscientiousness, an k tipe ini cenderung memiliki konsistensi yang tinggi, gigih, dan penuh perencanaan. Neoriticism, anak tipe ini memiliki emosi yang negatif, mereka memiliki interprestasi dalam kondisi yang biasa menjadi kondisi yang mengancam dan mudah sekali frustasi meski tingkatannya kecil, dan emosinya cenderung jangka panjang. Sehingga dalam proses belajar mereka mengalami kesulitan dengan teman yang lainnya. Opennes to experience, anak tipe ini cenderung lebih suka terhadap seni dan kecantikan, oleh karena itu mereka memegang keyakinan indiviualistik dan tidak konvensional.
4.      Perbedaan gaya belajar
Perbedaan gaya belajar juga mempengaruhi perbedaan individu dalam proses pendidikan. Contoh tipe anak yang memiliki kecerdasan yang tinggi cenderung memiliki gaya belajar yang kurang baik yaitu dengan cara membaca sekilas materi-materi yang diberikanb oleh guru, tetapi dalam prosesnya mereka masih bisa bersaing dengan anak-anak yang memiliki gaya belajar yang rajin. Gaya belajar setiap individu berbeda-beda, dan menurut Horne (2005) terdapat gaya belajar yang berbeda, yaitu modalitas belajar, siswa dalam gaya belajar ini lebih memilih untuk melihat, mendengar, menyentuh terhadap apa yang dipelajari, kemudian belajar dengan otak kiri dan kanan. Siswa yang dominan dalam otak kanan memiliki kelemahan dalam visual dan non verbal, misal menggambar. Sedangkan siswa yang otak kirinya lebih dominan mereka lebih baik dalam proses pembelajaran visual. Lingkungan  belajar siswa memilih tempat / situasi yang mereka sukai untuk membantu proses pembelajaran. emosi belajar mempengaruhi stipe belajar siswa. Belajar konkrit dan abstrak, belajar konkrit memilih proses informasi/langsung mengalaminya, sedangkan belajar abstrak melalui simbol-simbol. Belajar global dan analitik, belajar global memilih untuk mengatagorikan secara luas semua informasi, sedangkan analitik mengamati secara detail.

0 komentar:

Poskan Komentar